Senin, 13 Februari 2017

KEHILANGAN

Beberapa waktu lalu, saat hendak berbelanja ke tukang sayur depan masjid, Saya mendapati uang di kantong celana tidak ada. Kaget. Itulah reaksi saya pertama kali.

Dengan segala daya upaya dan sisa-sisa energi yang ada. Maklum, saya berbelanja mengendarai sepeda. Kebayang kan capek ya. Ups.

Saya berusaha untuk bersikap biasa. Seolah-olah tidak ada yang hilang. Untunglah, kantong sebelah kiri masih terselip selembar uang sepuluh ribuan. Alhasil, sambil berfikir keras meratapi uang seratus ribuan yang lenyap tak berbekas saya berbelanja tidak melebihi sepuluh ribu.

Awalnya, masih menenangkan hati. Mungkin, uang nya ketinggalan di rumah. Dengan rasa tak sabar, ingin secepatnya sampai rumah agar tidak menambah penasaran di hati.

Allah..

Benar. Aku sekarang yakin, uangku hilang. Ada sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan. Badan lemes. Penyesalan dan untaian kalimat 'andai' memenuhi semua ruang gerak yang masuk di fikiran.

Padahal Cuma selembar ratusan ribu. Selembar. Harusnya tidak jadi masalah kan. Toh, tidak membuat harta berkurang.

Namun, seminggu berlalu. Kenangan akan kehilangan uang seratus ribu itu, masih tidak juga lepas. Duh, apa yang salah? Inikah tanda cinta dunia?

Jawabannya iya. Saya terlalu dan teramat sangat mencintai uang, yang notabene bisa dicari.

Saya lupa, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak uang yang di punya. Lalu, mengapa harus bersedih hanya karena selembar uang. Uang yang tidak akan di bawa mati.

Saya berusaha untuk ikhlas. Ikhlas akan sikap saya yang ceroboh. Ikhlas atas apa yang sudah hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar